Memanfaatkan Bahan Baku Bambu Lokal Produksi yang dipandang sebelah mata.Kesan yang pertama muncul , begitu melihat product katik sate, sepertinya dilihat sebelah mata, terkesan pekerjaan sepele, dan sepertinya tidak bisa menjanjikan peningkatan taraf hidup , dan banyak komentar lainnnya yang bernada sumir / miring. Masyarakat kadung sudah terbiasa disajikan media khususnya Televisi, yang topiknya mayoritas tentang kehidupan glamour orang kota, Budaya kehidupan di kota Metropolitan, yang memperlihatkan segala sesuatu yang serba Instan, tanpa memberikan pentingnya arti sebuah proses / suatu siklus, yang harus bertahap dan membutuhkan tekad yang kuat dan kesabaran untuk meraihnya.
Coba perhatikan , para Pejabat, Ahli Ekonom, bahkan Para Politisi yang sedang berkampanye selalu berbicara tentang Ekonomi Rakyat, menggali potensi dan akan membantu memajukan Ekonomi Masyarakat di Desa, namun apa yang terjadi….?. Mereka terlalu sering berbicara ditataran Teoritis dan sering tidak melihat Potensi an kondisi yang ada di Masyarakat. Dan terlalu sering memaksakan Pola-Pola Topdown, sehingga tidak jarang maksudnya baik dari atas, tetapi tidak optimal dibawah, bahkan mubasir. Sekecil apapun peluang itu kalau dikelola dengan baik akan menjadi potensi Ekonomi Masyarakat yang bisa memberikan tambahan pendapatan. Disinilah bedanya sudut pandang berpikirnya bapak-bapak diatas dengan kepentingan yang menyentuh masyarakat secara langsung.
Masyarakat sesungguhnya punya pola pikir yang sederhana, mereka dengan kederhanaannnya mampu memanfaatkan Potensi Alam dan sumber daya yang ada, menciptakan suatu product yang dibutuhkan masyarakat, akrab dengan Lingkungan dan bisa meningkatkan Nilai Tambah suatu Product. Namun sayang apa yang sudah berkembang di Masyarakat tidak diikuti oleh Peran Pemerintah, membina dan mencarikan terobosan Pasar atau celah-celah Pemasaran.
Seperti yang ditampilkan Produksi Katik Sate,Teknologi yang sederhana, memanfaatkan peralatan yang sederhana, bahan baku yang bisa diambil sekitarnya, bahan baku bambu punya nilai tambah, tidak perlu SDM yang bergelar Sarjana, ataupun Sekolah Menengah, yang tidak berpenidikanpun bisa mengerjakan pekerjaan tersebut.
Bidang pekerjaan yang bisa melibatkan Tenaga kerja banyak ( Padat Karya ), pekerjaan yang bisa dikerjakan disela-sela waktu/ paruh waktu, waktu bisa dimanfaatkan secara optimal, sambil menunggu Sangkepan atau menunggu rumah, sangat cocok dengan kondisi riil yang ada di Bali. Mereka tinggal di Desa , di rumah mereka, bisa melakukan kegiatan yang produktif dengan memanfaatkan bahan baku local, dan sangat mungkin bisa dikembangkan pada suatu aktifitas yang lebih besar.
Jenis Product katik sate yang dibuat menyesuaikan dengan Pesanan atau Product katik Sate yang sesuai standar ukuran dan bentuknya. Di Bali khususnya katik Sate yang dibuat berdasarkan keperluan akan fungsi dari katik tersebut. Dan faktanya terkadang si Pemesan sudah mempunyai ukuran dari Katik sate yang akan dipesannya, berdasarkan keperluan pemakainya.
Harga tusuk sate perbijinya ada dikisaran Rp 30,- sampai dengan Rp 45,- tergantung dari jenis pesanannya dan kapasitas dari katik sate yang dibuat, ditambah dengan ongkos kirim, menyesuaikan dengan jaraknya. Klo ingin membuat katik yang special tinggal dikirimkan photo atau bentuk contoh dan ukuran dari katik tersebut.
Potensi-Potensi Masyarakat kami tampilkan dengan tujuan agar diketahui bahwa ada kegiatan-kegiatan Masyarakat yang perlu diinformasikan dan dipromosikan, sehingga dengan perkembangan Teknologi Informasi, khususnya Internet dapat dirasakan oleh Masyarakat Pedesaan.


