Powered By

Powered by e-banjar

Minggu, 21 Juni 2009

Subak Dan Pertanian Organik di Bali


Subak Dan Pertanian Organik di Bali

Pulau Bali menjadi Pulau Organik

Manfaatkan Sumber Daya Lokal ----
Galakkan Pertanian Organik



Apa Yang terjadi Tentang Pertanian kita sekarang…?

* Tanah Pertanian semakin rusak, akibat pupuk kimia, coba perhatikan jika Petani mengolah Lahannya, apalagi saat membajak untuk Palawija, gumpalan tanah yang dulunya gembur sekarang berubah menjadi gumpalan-gumpalan tanah liat, disaat musim hujan tanah pertanian akan menjadi tanah liat dan pada saat musim kemarau tanah Pertanian terlihat permukaan tanah-tanah pecah yang menggumpal .
* Penggunaan Pestisida, dengan penyemprotan berdampak langsung terhadap kesehatan, tanpa sadar hasil Pertanian yang kita makan atau konsumsi , tanpa sadar kita sudah menimbun racun zat kimia didalam tubuh kita.
* Penghasilan sawah Pertanian semakin menurun, dan penggunaan pupuk menjadi semakin banyak, sehingga mengurangi pendapatan Petani.
* Budaya Petani sekarang kebanyakan sudah juga terpengaruh Budaya Instan, Praktis dan kurang memikirkan dampak Lingkungan yang lebih luas dimasa datang.


Apa yang diuraikan diatas adalah sebagian kecil dari masalah yang kasat mata ada dipelupuk mata kita. Masyarakat kita sudah jauh melenceng dari konsep tri hita karana (THK) yang mengutamakan keseimbangan. Kita hanya mau gampangnya, padahal itu sangat merugikan kita semua.

Disaat Masyarakat Petani yang sudah terjebak dan menjadi Budaya dalam penggunaan Pupuk Kimia, Posisi Pemerintah Daerah Bali dan Pemerintah Kabupaten mestinya ada kesamaan langkah dalam menyusun Program Pertanian Bali akan dibawa kemana …?.

Sejak pemerintah menerapkan program "Go Organik 2010", berbagai kalangan menilai, pemasaran pupuk organik ke depan diperkirakan bakal makin cerah. Peluang pasar yang bagus itu tidak disia-siakan oleh PT Pusri-pabrik pupuk terbesar di Indonesia-untuk menggarapnya di berbagai daerah.

Ada pernyataan Gubernur Bali yang tentunya akan merupakan langkah awal , Pemerintah mengambil Inisiatif mengambil langkah-langkah kebijakan sbb :

Pada 2010, Gubernur Bali menyatakan akan mencabut subsidi pupuk kimia. Tindakan ini dilakukan untuk mewujudkan Bali Organik untuk mencegah makin rusaknya alam Bali. Tiap tahun, Bali kehilangan tanah 5-10 juta meter kubik akibat tergerus air laut. Gubernur Bali bertekad akan mewujudkan Bali Organik tanpa zat kimia. “Pencabutan subsidi pupuk kimia akan mendorong penggunaan pupuk organik,” ungkapnya.

Masukan Yang cukup Baik terlontar dari Pernyataan Ibu Luh Kartini, selaku Pelaku dan Penggiat Pertanian Organik dan selaku Ketua Bali Organik Asosiation ( BOA ) , memberikan pernyataan sebagai berikut:

KESERIUSAN PEMERINTAH PROPINSI BALI UNTUK MELINDUNGI ALAM, KEHIDUPAN KRAMA BALI SERTA MENJADIKAN PULAU BALI MENJADI PULAU ORGANIK, AKAN TERBUKTI APABILA PEMDA MEMASUKKAN KEBIJAKAN PENGEMBANGAN ORGANIK DALAM RTRWP YANG SEDANG DIBAHAS DALAM PENYUSUNAN PERDA.


Adat dan budaya Bali pun, menurut Kartini, sangat mendukung pola pertanian organik. Tumpak bubuh dan penjor adalah dua contoh budaya Bali yang mendukung agar manusia tidak merusak alam. “Seluruh bagian penjor itu kan hasil pertanian. Jadi maknanya adalah agar kita menggunakan sumber daya alam yang sudah kita miliki, bukan dengan mengambil dari tempat lain. Apalagi sampai tergantung,” tuturnya.

pertanian organik memang mampu meningkatkan pendapatan petani di Bali. Sebab, dengan bertani organik, petani tidak lagi perlu pupuk kimia dan pestisida. “Petani jadi tidak bergantung pada perusahaan pupuk dan pestisida untuk mengelola pertaniannya,”

Sebagai catatan, dibalik Lontaran gubernur diatas dan pernyataan dari Ibu Luh Kartini sebagai Ketua BOA Bali, kenyataan tahun 2009 ini, Pemprop Bali menggelontor subsidi Rp 4,250 milyar. Subsidi ini ditujukan kepada pupuk jenis NPK dan organik. Dan yang jelas setiap Subsidi yang diberikan kepada Petani khususnya pada Pupuk , hampir sebagian besar dialokasikan memberikan pupuk, yaitu Pupuk Kimia dan sebagian kecil diberikan dalam bentuk Pupuk Organik.

Apakah Petani memang Tidak Mau Berubah Menjadi Petani Organik…?

Apa yang sesungguhnya terjadi ditingkat Petani seperti sekarang ini adalah bentuk dari akumulasi Pembinaan jangka Panjang yang dilakukan oleh Pemerintah. Dulu Petani sudah biasa menggunakan Pupuk Kompos/ pupuk organic yang berasal dari sampah rumah tangga, kotoran sapi atau babi, begitu Pemerintah mengadakan gebrakan di Dunia Pertanian dengan menganjurkan dan hampir rutinitas Petani digelontor oleh Pupuk Kimia, tanpa sadar Petani terjebak didalam kondisi seperti itu , sampah rumah tangga tidak dibuang ke sawah, Pemerintah sudah menyediakan Tong sampah, atau Petani membuang sampah disembarang tempat.

Apa Sih Yang salah “ Kenapa Dunia Pertanian “ dipandang Sebelah mata…?

Coba kalau anda pernah pengalaman menjadi Petani, betapa tanpa sadar kita sudah terbiasa dininabobokkan oleh penggunaan pupuk Kimia, dan persepsi sebagian masyarakat sepertinya Dunia / Profesi di Dunia Pertanian tidak bisa memberikan Peluang Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat . Coba anda bisa berpikir lebih arif apa yang dilakukan oleh Penyuluh-Penyuluh Pertanian / PPL yang konotasi merupakan ujung Tombak Pembinaan terhadap Petani ?. Sesungguhnya Masyarakat kita khususnya di Bali mereka menganut Pola Panutan, dan dalam kondisi seperti ini apa yang dianjurkan Pemimpinnya atau Pemerintah pasti Masyarakat akan mengikuti.

Kenapa terjadi seperti ini ….?

Mari kita lihat secara Fair, bagaimana Petani disarankan menanam padi atau menanam jagung, pasti diikuti oleh penggunaan pupuk dan Pestisida, yang jelas-jelas itu adalah pupuk dan Pestisida Zat Kimia. Dan satu hal lagi Petani hanya didampingi saat berproduksi, dan tidak diperhatikan saat Pasca Panen. Coba sekarang dibayangkan jika Petani disuruh ke Pertanian Organik, lantas kalau hasilnya berlebih kemana mereka harus memasarkan ? Siapa yang mendampingi saat seperti ini? .

SOLUSI :

Dunia Pertanian harus digarap secara Terpadu dan Komprehensip. Pemerintah dan pihak-pihak yang melakukan Pemberdayaan terhadap Petani harus satya wacana, apa yang dikatakan itulah yang akan dilaksanakan, menggarap Petani mestinya dilakukan pendampingan dari Hulu sampai hilir, baik pada saat mengolah tanah, memilih jenis varitas tanaman, penanaman dan pemeliharaan , dan yang tidak kalah pentingnya setelah panen bagaimana dan kemana pemasarannya ?

Pemanfaatan teknologi Informasi Oleh Petani.

Salah satu contoh Petani di Bedugul Bali, Informasi tentang pertanian organik sendiri, menurutnya, diperoleh dari internet. Ketut dan petani lain di Bedugul mendapat bantuan komputer dan internet dari Microsoft, raksasa perusahaan teknologi informasi dunia. Dari internet, Ketut dan teman-temannya mendapat informasi tentang teknologi pertanian organik tersebut. “Kami pikir tidak susah untuk dicoba di tempat kami,” katanya.

Ide dasarnya memang berawal dari tindaklanjut pelatihan produksi padi organik dan sistem penjaminannya (ICS/IGS) di Yogyakarta pada bulan Maret 2007. Dari usulan peserta, menyarankan bahwa apabila ada pelatihan lanjutan maka sebaiknya difokuskan pada pasca panen, procesing, packing dan pemasaran.

Dengan pola tersebut, kata dia, biaya produksi menjadi lebih murah. Mengingat pestisida sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh maka sudah saatnya Bali harus mencanangkan pertanian organik yang telah menjadi trend dunia.

Kelompok petani Somya Pertiwi di Wongaya Betan bahkan lebih maju. Mereka membuat pusat pelatihan pertanian organik di tanah seluas sekitar 35 are dengan fasilitas balai pertemuan, kantor, perpustakaan, toko, hingga ruang menginap untuk tamu. Internet pun sudah ada di tempat berjarak sekitar 65 km utara Denpasar ini. Di pusat pelatihan ini pun ada tempat pengolahan padi dan produksi pupuk organik.

Bahan untuk pupuk organik di sini sedikit berbeda dengan petani di Bedugul yang hanya bersumber dari air kencing sapi. Petani di Wongaya Betan mencampur kotoran sapi dengan kotoran ayam dan pupuk kascing melalui teknik fermentasi. “Air kencing sapi hanya dipakai sebagai penambah cairan karena kandungan air di kotoran sapi tergolong kecil,” kata I Nengah Miasa, Ketua Kelompok Somya Pertiwi.

Seiring berjalannya waktu kelompok Somya Pertiwi mampu mengelola sebuah penggilingan padi dengan kapasitas 5 ton/hari, peternakan sapi 100 ekor dan ayam 2000 ekor yang dikelola secara organik pula. Kotoran ternak tersebut mereka olah menjadi pupuk organik dikemas dan dipasarkan dengan merk ”Green Valley”. Dengan pengalaman tersebut, diharapkan peserta pelatihan dapat belajar banyak dengan kelompok tani Somya Pertiwi di Wongaye Betan.

Pemanfaatan Teknologi Tepat guna, salah satu diambil contoh, Tanaman paprika itu ada di lahan beratap dan berdinding plastik seluas 4 are. Ketut menggunakan teknologi irigasi tetes (semi hidroponik). Pupuk organik cair itu dia alirkan melalui pipa kecil yang berlubang di tiap bagian di mana tanaman paprika berada. Pupuk cair itu dan abu sekam terbungkus plastik menjadi media tanam paprika. Ketut tidak perlu tanah untuk menyuburkan tanaman yang terlihat segar-segar tersebut.

Contoh diatas adalah salah satu contoh didalam membina Petani sudah mulai memadukan Pemberdayaan dengan model secar terpadu dan kompreshensif, dan satu hal Teknologi akan memberikan warna terhadap Dunia Pertanian, tidak saja Teknologi Produksi saja melainkan Teknologi Informasi juga akan mengambil Peranan yang sangat penting dimasa yang akan datang. Khususnya dalam hal menginformasikan dan mempromosikan product-product tersebut, sehingga apa yang sudah diprogramkan dari awal / dari hulu, sampai pada solusi dari Pemasaran product tersebut. Dan klo memungkinkan product yang sudah dihasilkan Petani bisa diolah untuk meningkatkan nilai tambah, setelah itu dikemas dan dibantu dipasarkan melalui media Internet.

Dan klo memang semua pihak menyadari, khusus di Bali atau lebih kecil di Karangasem, mestinya sudah antara Pemerintah, Pelaku Pariwisata dan Lembaga Petani duduk bersama , membuat Program kearah Pertanian Organik,mendampingi Petani, dengan begitu semua komponen akan berjalan sebagai mana mestinya, dan tidak ada yang ditinggalkan atau hanya dijadikan obyek penderita semata. Semua kebagian kue, Pariwisata Lestari, Pemerintah sukses memberdayakan petani dan Ujungnya Petani akan meningkat pendapatannya , sehingga kesejahteraan Petani juga menjadi lebih baik

Trimakasih, partisipasi semua pihak sangat diperlukan dalam upaya Pemberdayaan Petani, dan khususnya dalam hal Pemasyarakatan Pertanian Organik , menuju “ Bali Pulau Organik”.

2 komentar:

red_on mengatakan...

kritikan yang bagus!! apapun yang kita lakukan dengan tekun dan sabar serta fokus pasti akan menghasilkan buah yang membanggakan

http://caramendapatkandollarusdgngratis.blogspot.com/
http://lombok-paradise-property.blog.com/

Dwija mengatakan...

Salut buat Banjar Tegallinggah, menuju Desa IT yang tetap mempertahankan nilai-nilai tradisional.


Salam,

Dwija